Jangan Dicontoh dan Hindari! Agen Asuransi Tidak Profesional!

Bertemu agen asuransi di rumah makan Tanjung Duren, Jakarta Barat
Ilustrasi orang sedang berbincang-bincang di tempat makan. (sait.ca)
Agenasuransiprofesional.com - Siang hari yang cerah. Tampak awan putih bergerak perlahan mengitari langit biru di atas kota Jakarta. Jamnya makan siang. Saat itu saya sedang berada di sebuah rumah makan di bilangan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dari semua pelanggan makan siang, ada seorang laki-laki yang saya taksir berusia kurang lebih 30-an tahun tak berbeda jauh dengan usia saya pada waktu itu. Sambil menyantap makanannya, sesekali melirik ke kanan kiri seolah-olah sedang mencari seseorang. Tas hitamnya yang tebal serta sebuah diary lusuh tampak ada di atas meja makan. Penampilannya cukup rapi dan meyakinkan bak seorang pekerja kantoran dengan style kemeja lengan panjang berwarna cream dipadu celana katun berwarna cokelat. Sayang, wajahnya kurang ganteng.

Ketika laki-laki ini sedang menoleh kanan kiri kebetulan saya menatap dirinya. Sambil saling melempar senyum ala pramugari kami seolah-olah berkenalan. Selesai makan, laki-laki ini menghampiri meski saya belum selesai makan. Meminta izin duduk di depan meja mengajak ngobrol. Mau tahu apa yang ada di pikiran saya waktu itu? Pada saat pertama kali menatap dirinya dan melihat gerak-geriknya, melihat cara berpakaiannya serta model tas yang dibawanya, dalam hati saya sudah berpikir, "Orang ini kalau bukan penjual asuransi pasti pelaku MLM (multi level marketing)!"

Ternyata dugaan saya tidak meleset! Laki-laki ini adalah seorang agen asuransi. Menjual sebuah produk asuransi dari sebuah perusahaan asuransi yang cukup terkenal di Indonesia. Dalam hati saya bergumam, 

"Lagi-lagi ketemu orang asuransi! Mengapa tidak ada yang lain? Tapi tak apalah daripada ketemu orang MLM apalagi money game!"

Mohon maaf, secara pribadi saya termasuk orang yang paling malas bertemu dua tipe orang atau dua profesi di atas. Anda jangan tersinggung karena ini adalah hak saya sebagai seorang individu. Bukan karena saya tidak pernah mengkonsumsi produk MLM atau tidak memiliki polis asuransi. Saya tentu punya alasan kuat yang berangkat dari pengalaman hidup. Karena kedua tipe profesi ini yaitu agen asuransi dan pelaku MLM cenderung memaksakan diri bahkan bersikap tidak profesional. Mereka berkenalan dengan niat tidak tulus. Di mata mereka semua orang yang mereka kenal adalah target pemasaran atau penjualan produk mereka. Bahkan orang lain sering dianggap kalah pintar atau kalah jenius dari mereka. Seolah-olah merekalah yang paling hebat bahkan produk yang mereka jual adalah produk bikinan dewa! Kalau tidak beli, tidak konsumsi, tidak pakai maka kita bakal sengsara atau celaka! Begh....

Laki-laki itu berkata, "Pak, boleh kenalan?" Tentu saja boleh. Berkenalan dengan orang tidak ada ruginya. Setelah itu dia melanjutkan, "Berhubung saya masih ada urusan, boleh saya minta nomor telepon Bapak?" Antara ya atau tidak karena telepon terkadang bersifat privasi namun akhirnya saya iyakan. Saya menyebut nomor telepon dua kali agar tidak salah. Tahu apa yang dilakukan laki-laki penjual asuransi ini? Saat itu belum ada android, belum ada whatsapp bahkan telegram. Saat itu musim-musimnya blackberry dengan pin bbnya. 

Meski memegang telepon di tangan, laki-laki itu tidak mencatat nomor saya di ponselnya tetapi di buku diarynya. Gubrak! Sialan ini orang! Rupanya ketemu lagi dengan orang yang sama yang hanya menjadikan kita sebagai target penjualan mereka. Dalam hati saya bergumam, "Semoga dia tidak jadi nelpon. Kalau ada nomor asing masuk apalagi nomor orang ini bakalan saya reject atau tidak angkat!" Dan syukurlah dia tidak jadi telepon.

Apa salahnya, apa ruginya, apa celakanya, apa sulitnya jika kita meminta nomor telepon orang dan orang tersebut memberikannya kepada kita, kita simpan (save) langsung dari ponsel kita. Mengapa harus dicatat di sehelai kertas? Kalau mau lebih menghargai orang apalagi orang yang baru diajak berkenalan, mungkin bisa kita miscall setelah kita simpan agar orang tersebut mengetahui inilah nomor kita. Kalau memang terlanjur berkenalan dan meminta tetapi tidak sreg di hati, bisa saja kita pura-pura setelah itu tidak perlu dihubungi atau dikontak. Sederhana sekali. Mengapa harus mencatat nomor orang di sehelai kertas? Ini adalah sebuah pendekatan personal jadi harus menghargai orang yang kita ajak kenalan kecuali kita cari tahu nomor ponsel orang dari iklan koran, buku kuning (yellow pages), internet, dst. Tentu saja harus dicatat karena tidak ada sosok orangnya di depan mata.

Jadi saya anggap laki-laki ini bukan agen asuransi yang profesional. Alih-alih mau nawarin saya produk asuransi, melihat gelagat seperti ini sudah membuat saya menutup diri. Pasti runyam jika mengikat kontrak atau perjanjian bisnis dengan orang seperti ini. Bagaimana menurut anda? Kalau anda adalah seorang agen asuransi yang mau sukses menjual, jangan tiru hal-hal kecil seperti ini. Kalau tidak mau minta nomor telepon orang maka tidak perlu memintanya. Jika meminta lalu orang tersebut memberikannya simpan langsung dengan ponsel anda dan bila perlu miscall. Toh kalau tidak mau atau tidak butuh, pura-pura disimpan saja dulu. Kalau anda konsumen, jangan pernah mau membeli asuransi dari orang-orang seperti ini. Sudah tidak profesional! Anda hanya dijadikan alat atau sasaran penjualan untuk menghidupi diri mereka!

Sekadar info tambahan saja. Beberapa waktu kemudian ketika saya kembali makan di rumah makan tersebut, rupanya saya berjumpa lagi dengan laki-laki ini. Cuma kali ini saya cuekin saja. Sejak pengalaman tersebut mulai sekarang jika ada orang mengajak berkenalan terutama sales apalagi sampai meminta nomor telepon, jika tidak meyakinkan seringkali saya menyebut nomor telepon sembarangan atau memberikan nomor telepon cadangan yang jarang aktif dipergunakan.